Skip to main content

[Review Film] X-Men: Apocalypse


En Sabah Nur atau Apocalypse, disebut sebagai mutan yang pertama dan yang terkuat bahkan dia mengakui bahwa dirinya adalah dewa dan disembah oleh manusia sebagai dewa pada awal peradaban.  Dia ingin menguasai dunia dan menciptakan dunia baru dimana dia akan memimpin dunia tersebut. Untuk mencegah hal tersebut terjadi Professor Charles Xavier dibantu Raven (Mystique) dan Hank McCoy (Beast) memimpin tim X-Men yang masih muda untuk menyelamatkan manusia dan dunia dari kehancuran total.

Kira-kira seperti itulah sinopsis film X-Men: Apocalypse. Filmnya sendiri secara keseluruhan bagus, saya sendiri suka dan cukup menikmati film ini. Ceritanya sederhana, Apocalypse mencoba menguasai dunia di awal peradaban dibantu dengan Four Horseman tapi digagalkan dan dikubur. Setelah ribuan tahun, pada peradaban berikutnya reruntuhan ditemukan dan Apocalypse bangkit. Dia ingin menguasai dan merubah dunia kembali, dia mengumpulkan Four Horseman baru untuk membantunya tapi digagalkan lagi. Kali ini digagalkan oleh Professor X, Mystique, Beast dan tim X-Men muda. Intinya hanya mengulang kegagalan tokoh jahat untuk menguasai dunia. Namun cerita di bagian (kegagalan) pertama hanya singkat dan tidak sedetail pada cerita di bagian (kegagalan) kedua. Tentu dibagian kedua mengalami pengembangan cerita karena menyangkut tokoh baik utama.



Walaupun sebenarnya cerita dari film ini simpel tapi terasa melelahkan mengikuti pace atau jalan cerita film ini. Karakterisasi beberapa tokoh pun kurang jelas dari latar belakang, alasan tindakan dan keberadaan tokoh tersebut dalam film. Mungkin Bryan Singer (sutradara) bingung membagi porsi karakter karena banyaknya karakter yang hadir dalam film ini. Jatah scene tokoh-tokoh jahat lebih banyak dibandingkan scene tokoh-tokoh baik dalam keseluruhan film.



Untuk adegan action dan CGI tidak perlu diragukan lagi, divisualisasikan dengan sangat bagus. Yang menarik lainnya adalah tim muda X-Men (Quicksilver, Jean Grey, Cyclops dan Nightcrawler) terutama Quicksilver yang berhasil mencuri perhatian dalam film ini dan mendapat cukup banyak scene dibandingkan kehadirannya di film sebelumnya, X-Men: Days of Future Past. "Love story" antara Professor Charles Xavier dan Erik Lehnsherr (Magneto) pun sangat terasa.

Buat yang belum tahu, timeline film X-Men sudah berbeda atau berubah semenjak film X-Men: Days of Future Past. FOX me-reboot cerita X-men melalui film tersebut, sehingga tiga film awal X-Men menjadi tidak berlaku. Jadi jangan dikaitkan atau bingung dengan tokoh baru atau tokoh yang sama tapi ceitanya berbeda dari tiga film awal X-Men. Dan Quicksilver disini berbeda dengan Quicksilver di film Avengers: Age of Ultron. Tidak ada hubungannya karena kedua film tersebut berbeda studio produksi.

Karena ini film Marvel, walaupun beda studio, tetap akan ada cameo dari Stan Lee dan post-credit scene. Untuk post-credit scene X-Men: Apocalypse hanya ada satu scene dan terletak di paling belakang setelah credit title selesai.

X-Men: Apocalypse merupakan film yang bagus, bagus saja, bukan film yang bagus banget. Walaupun sedikit bingung dengan karakterisasi tokoh yang kurang jelas dan mungkin melelahkan untuk mengikuti jalan ceritanya bagi beberapa kalangan tapi X-Men: Apocalypse tetap menyenangkan untuk ditonton. Ditambah beberapa adegan menggelitik dan visualisasi yang sangat bagus.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

[Review Film] Fifty Shades of Grey

Anastasia Steele (Dakota Johnson), perempuan lugu, polos, dan pintar harus menggantikan temannya Kate (Eloise Mumford) yang sedang sakit untuk melakukan wawancara dengan seorang pengusaha sukses, Christian Grey (Jamie Dornan). Keduanya saling tertarik sejak pertemuan wawancara tersebut. Namun, Ana harus menghadapi sifat Mr. Grey yang tidak romantis dan senang mengendalikan. Selain itu, ternyata Mr. Grey memiliki sisi lain yang membuat Ana terkejut.

[Review Film] The Visit

Kisah kakak dan adik yang pergi berlibur selama satu minggu ke rumah kakek dan nenek mereka untuk pertama kalinya. Namun baru beberapa jam setelah sampai di rumah kakek dan neneknya, mereka merasakan keanehan dengan perilaku kakek dan nenek mereka yang membuat mereka berdua ketakutan. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang lebih cepat karena mereka takut tidak bisa pulang kembali.

[Review Buku] Sabtu Bersama Bapak

Buku karangan Adhitya Mulya ini mengajarkan banyak hal terutama tentang keluarga. Banyak pelajaran yang bisa diambil serta membuka mata dan pikiran akan sesuatu yang mungkin tidak kita pikirkan. Sekilas kehidupan tokoh utama terlihat bahagia dan sempurna terutama dari sisi ekonomi walaupun ada duka yang mendalam di awal cerita. Yang menarik justru bukan kesempurnaan itu tetapi apa yang terjadi dibalik kesempurnaan dan kebahagian yang mereka dapat, bagaimana prosesnya, persiapannya dan langkah yang diambil untuk mencapai kebahagiaan. Dan yang paling menonjol dalam cerita ini adalah sifat kekeluargaan yang memperingatkan kita bahwa betapa pentingnya keluarga.